Mengajar KPK dengan Menabung

Menghitung Kelipatan Sambil Menabung

Sebagaimana telah kita ketahui, proses pembelajaran dengan menggunkanan pendekatan pendidikan matematika realistik menekankan kepada konstruksi dari konteks benda-benda konkrit sebagai titik awal bagi siswa guna memperoleh konsep matematika. Kegunaan dari benda-benda konkrit ini sendiri untuk menjembatani proses berpikir sisiwa untuk ada dalam proses matematisasi konkret ke abstrak, dengan demikian siswa perlu diberi kesempatan untuk mengkontruksi dan menghasilkan matematika dengan cara dan bahasa mereka sendiri. Sejalan dengan hal ini maka sebagai calon guru/pengajar khusunya yang membidangi matematika kami berusaha untuk melakukan desain pembelajaran dengan mengintegrasikan PMRI.

Kesempatan pertama kami peroleh dari guru SD Negeri 21 Palembang untuk melakukan proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI yakni pada tanggal 20 September 2011. Seminggu sebelum kami mengajar dikelas kami melakukan diskusi bersama dengan guru PMRI di sekolah tersebut. Kami mendiskusikan desain pembelajaran bersama-sama dan sebagai guru kelas pak Yoso bersedia berkolaborasi dengan kami untuk melakukan proses pembelajaran dikelas dengan pendekatan PMRI. Pokok bahasan kelipatan dan faktor bilangan adalah konsep baru yang akan dipelajari siswa pada minggu itu, dan kami memulai memperkenalkan apa itu kelipatan bilangan dengan mangajar siswa melakukan kegiatan menabung. Dengan demikian goal kita pada petemuan ini adalah siswa dapat memahami pengertian kelipatan, kelipatan persekutuan dan menentukan kelipatan persekutuan terkecil dari dua buah bilangan.

Tujuan dari kegiatan observasi ini adalah untuk mengetahui efek dari konteks kegiatan menabung  terhadap pembelajaran KPK.

Beranjak dari kesepakatan bersama dengan guru kelas (pak Yoso ) maka kami dibagi tugas mengajar dimana Pak Yoso memulai pembelajaran/kegiatan pendahuluan kemudian kami diminta untuk masuk dalam kegiatan inti dan penutup. Adapun jumlah siswa di kelas IV A adalah sebanyak 27 orang siswa dan yang hadir pada hari itu adalah 26 orang siswa.

 Adapun langkah-langkah dalam proses pembelajaran KPK dengan konteks kegiatan siswa menabung adalah sebagai berikut :

1. Pak Yoso memulai pembelajaran menjelaskan dan menanyakan kepada anak-anak tentang masalah manabung yang pernah mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.  Sebelum membagi siswa kedalam kelmopok masing-masing ia juga menjelaskan aturan dari konteks kegiatan menabung yang akan dilakukan siswa di hari ini. Pak Yoso juga menjelaskan tujuan pelajaran hari ini dan kemudian membagi siswa kedalam 6 kelompok, 3 kelompok (dengan jumlah tabungan Rp 500 tiap harinya) dan 3 kelompok (dengan jumlah tabungan Rp 200 tiap harinya). Setelah siswa berada dalam kelompoknya masing-masing guru membagi celengan dan uang koin (sesuai dengan nama kelompoknya yang ditempelkan di depan celengan tersebut).

2. Tahap pemecahan masalah dan menemukan konsep kelipatan. Pada tahap ini, siswa diberikan arahan untuk mengisi LKS yang telah disediakan. Siswa berusaha memecahkan permasalahan dalam LKS dengan melakukan diskusi bersama dengan teman kelompoknya juga melakukan kegiatan menabung tanpa dibimbing guru. Beberapa kelompok terlihat masih melakukan kesalahan karena kurang memperhatikan aturan yang guru sampaikan di awal tadi. Selanjutnya kami mencoba menuntun siswa untuk mengerjakan LKS dengan benar dan menabung 1 koin setiap hari.  Namun kami menemukan, ada kelompok yang pandai dimana mereka merasa lebih mudah mengisi LKS dengan terlebih dahulu menuliskan jumlah tabungan (kolom sebelah kanan LKS) setelah itu menggambar banyaknya koin yang mereka tabung berdasarkan jumlah tabungan yang mereka tulis sebelumnya (kolom sebelah kiri LKS).

3. Selanjutnya tahap diskusi kelas sekaligus presentasi. Pada tahap ini guru terlebih dahulu memanggil perwakilan kelompok  500 dan kelompok 200 untuk menulisakan jawaban yang merupakan kelipatan dari tabungan mereka dipapan tulis. Setelah siswa selesai menulis jawaban mereka dipapan tulis, saya masuk dan berperan sebagai guru dalam membimbing siswa untuk melihat kelipatan persekutuan dari 500 dan 200.

Kemudaian, Saya memandu mereka dengan bertanya apakan ada jumlah yang sama dari tabungan kedua kelompok. Siswa maju ditabungan Setelah siswa mengetahui kelipatan persekutuan dari 200 dan 500 adalah 1000, dan 2000, saya juga mencoba meningkatkan pemahaman siswa dengan meminta salah seorang siswa melanjutkan kelipatan 200 hingga hari ke-20.  Setelah siswa menemukan/melingkari kelipatan persekutuan dari pengembangan soal tadi maka saya membimbing siswa melihat kelipatan persekutuan yang terkecil. Dengan demikian siswa lebih mudah menetukan KPK dari 200 dan 500 dari sejumlah kelipatan persekutuan yang dilingkari tadi. Setelah memahami konsep kelipatan, kelipatan persekutuan dan KPK dari tabungan mereka teman saya (Sylvana) mengarahkan siswa untuk memahami kelipatan dari 2 dan 5. Sylvana menghidupkan kelas dan dengan semangat yang tinggi semua siswa menjawab bersama-sama kelipatan. Siswa tampak sangat beratusias dan berlomba-lomba maju kepapan tulis untuk melingkari kelipatan persekutan dan kelipatan persekutuan terkecil dari 2 dan 5.

4. Sebagai tahap untuk merefleksikan apa yang sudah terjadi maka sebelum Sylvana membawa pemahaman siswa untuk menentukan kelipatan, kelipatan persekutuan dan KPK dari 2 dan 5, Pak Yoso menunjuk beberapa siswa untuk menyimpulkan apa arti dari kelipatan, kelipatan persekutuan dan KPK. Siswa belum dapat memberikan jawaban secara formal namun apa yang mereka samapaikan dapat kami simpulkan bahwa siswa dapat memahami arti dari kelipatan, kelipatan persekutuan dan KPK dengan pemahaman mereka sendiri.

5. Pada tahap akhir, untuk menyakinkan sekaligus meningkatkan pemahaman siswa maka kami memberikan beberapa soal latihan. Semua siswa terlihat antusias dalam mengerjakan soal latihan dan semua siswa terlihat percaya diri dan mengerjakan semua soal yang diberikan secara inividual. Dalam mengerjakan latihan ini juga beberapa sisiwa memiliki cara tersendiri untuk menghitung kelipatan yaitu dengan menggunakan jari-jari tangan mereka. Hal ini dikarena siswa merasa telah memahami benar materi kelipatan, kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terkecil (KPK). Bagi setiap siswa yang telah selesai dan mampu mengerjakan latihan dengan benar diberikan penghargaan dengan nilai 100 oleh Sylvana.

Oleh karena materi kelipatan ini berkesinambungan dengan menentukan kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terecil (KPK) maka yang menjadi inti pemasalahan dalam observasi ini adalah bagaimana menanamkan konsep kelipatan kepada para siswa. Jika siswa mengetahui konsep kelipatan, maka dengan mudah mereka dapat menetukan kelipatan perkekutuan dan KPK.

Dengan demikian lewat konteks kegiatan menabung, kami berupaya untuk membuat siswa memahami konsep kelipatan. Disisi lain, kegiatan menabung ini juga membuat mereka bebas menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dalam melakukan pendataan selanjutnya dan mengingatkan siswa dengan proses pembelajaran tersebut. Pada intinya, bermain sambil belajar akan membuat siswa merasa senang dan dengan mudah memahami dan menikmati suatu pelajaran.

Pada akhir pembelajaran siswa hanya dapat menyimpulkan kelipatan sebagai penjumlahan yang berulang pada bilangan yang sama dan belum dapat menyimpulkan hasil kali dari suatu bilangan yang sama.

Dalam PMRI dikenal istilah iceberg yang diguanakan untuk menggambarkan proses pemahaman siswa dari sesuatu yang real menuju puncak dimana siswa mampu memahami simbol matematika yang bersifat abstrak, dalam hal ini KPK. Berikut ini iceberg dari aktifitas yang kami lakukan bersama guru dan siswa kelas IVA di SD Negeri 21 Palembang.

Berdasarkan hasil observasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan konteks kegiatan menabung siswa mampu memahami konsep kelipatan sebagai suatu penjumlahan berulang sehingga pembelajaran yang terjadi dapat dirasakan bermakna dan menyenangkan bagi siswa dan pada akhirnya tujuan pembelajaran untuk menentukan KPK dapat dengan mudah dicapai oleh siswa.

Tentang matitaputtychristi

Friendly
Pos ini dipublikasikan di Observasi Kelas PMRI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s